Cilok Jepret Rasa Daging Sapi, Harga Murah, Rasa Takperlu Diragukan

CIANJUR, BS – Cilok Jepret dengan ciri khas warna putih dan memiliki rasa daging sapi tetap produksi ditengah situasi Pandemi, usaha milik R. Hermawan tetap bertahan sampai sekarang. Cilok yang berciri khas tersebut diproduksi oleh lima (5) karyawan.

R. Hermawan saat ditemui wartawan ditempat produksinya, belakang pasar gekprong RT 03 RW 03, Desa Cikahuripan, Kecamatan Gekprong, Kabupaten Cianjur, Jawabarat, mengatakan akan tetap produksi, walaupun penghasilan dari penjualannya mulai menurun.

Menurutnya, untuk saat ini ditengah Pandemi dalam sehari hanya mampu membuat sebanyak 1.600 cilok, dengan tenaga karyawan bagian produksi 2 ( dua ) orang dan bagian pemasaran sebanyak 3 ( tiga ) orang.

“Saya di bantu beberapa pekerja, untuk sekarang hanya bisa membuat sekitar 1.600 sampai 2.000 cilok Jepret, kalau sebelum Pandemi dulu mampu produksi 2.000 sampai 3.000 biji,” ungkap Hermawan kepada wartawan, Rabu siang (20/1/2021) pukul 12.30 wib.

Dalam kesempatan tersebut ia mengungkapkan bahwa usahanya sudah lama berdiri bahkan sudah belasan tahun, tepatnya sudah dimulai sejak tahun 2015 silam. Namun sejak adanya Pandemi Covid-19, kegiatan usaha yang dibangun sejak lama itu kini mulai tidak stabil.

” Mungkin selain adanya wabah virus Covid-19, juga akhir – akhir ini sering musim hujan, jadi masyarakat kesulitan mencari uang untuk membeli ” ujar Hermawan.

Ditambah untuk sekarang kekurangan modal, maka berharap kepada pemerintah agar memberikan modal usaha dengan anggunan yang ringan. Sebab bangkrutnya usaha itu indikator kuatnya adalah modal, sehingga selain penjualan yang menurun juga biaya untuk pembelian bahan baku harus besar. Maka modal harus ada tambahan karena tidak seimbang anggaran biaya produksi dengan hasil penjualan yang semakin turun, katanya.

“Saya menjual hasil produksi langsung kepada pekerja ( pedagang ) Rp. 700 rupiah per bijinya, dan mereka ( pedagang ) menjual langsung ke konsumen hanya Rp. 1.000 rupiah saja,” tuturnya.

Pedagang dapat laba sebesar Rp. 300 rupiah dari satu bijinya, itu sudah bersih tidak ada potongan apapun, sementara saya harus tetap konsisten menjual dengan harga tersebut, sebab jika tidak, maka konsumen akan memilih produk yang lain” lanjutnya.

Selama ini usaha cilok Jepret yang dibangunnya tidak pernah mendapat bantuan modal dari pemerintah sedikitpun, dan ia berharap agar pemerintah pusat melalui pemerintah daerah agar memberikan bantuan modal, terutama usaha kecil seperti diriny.(Der)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *