Untuk Bertahan Hidup, Sepasang Suami Istri Kuli Bikin Tusuk Sate

CIANJUR, BS – Sepasang suami istri Ajun ( 79 ) dan Yati ( 60 ), warga Kampung Mumunggang RT 01 RW 02, Desa Wangunjaya, Kecamatan Cugenang, Cianjur , Jawabarat, kondisinya cukup memperihatinkan, untuk bertahan hidup keluarga ini kuli bikin tusuk sate selama belasan tahun.

Ajun beserta sang istri, sudah sejak lama melakukan pekerjaan pembuatan tusuk sate tersebut, lebih tepatnya sejak 6 (enam ) tahun yang lalu dan sampai sekarang masih dijalani, pasalnya tidak ada pilihan lain yang bisa dikerjakan di sisa usianya yang semakin menua, selain melakukan pekerjaan pembuatan tusuk sate. Hal tersebut dikatakan Ajun, saat ditemui wartawan pada selasa sore (19/1/2021) pukul 15.21 wib.

Ia mengungkapkan, pekerjaannya merupakan pilihan di sisa – sisa usia yang sudah menua, sebagai tanggung jawab untuk menafkahi anak dan istrinya, dalam sehari ia dan istri mampu membuat tusuk sate sebanyak 1.000 biji yang dibuat dengan menggunakan bahan dasar bambu.

“Saya sudah tua, ya sebagai tanggung jawab sebagai laki – laki kan harus kerja, tapi kerja apa, satu – satunya yang masih bisa dilakukan cuma membuat ini, tusuk sate, sehari bisa buat 1.000 sampai 2.000 biji tusuk sate, itupun kalau dibantu sama istri” ungkap Ajun.

Dikatakan Ajun, satu biji tusuk sate yang dibuatnya hanya dihargai sebesar Rp. 4 rupiah, dan jika sehari dapat mengerjakan sebanyak 1.000 biji, maka nilainya Rp. 4.000 rupiah saja.

“Kalau sehari dapat 1.000 biji berarti Rp. 4.000 rupiah, tapi kalau dapat 2.000 biji tusuk sate, jadi uangnya cuma Rp. 8.000 rupiah saja, itupun kalau dibantu sama istri pada saat membuatnya, ya dari pada tidak ada, lumayan untuk beli sabun dan keperluan dapur,” ujarnya.

Senada dengan yang dikatakan Ajun, istrinya, Yati menyampaikan, sehari mampu membuat 5.00 sampai 1.000 biji tusuk sate, dan itupun jika kondisinya sedang sehat, namun jika dalam kondisi kurang baik hanya mampu sekitar 300 sampai 400 biji saja dalam tiga Minggu.

“Biasanya setelah dua sampai tiga Minggu, baru tusuk sate yang telah dibuat akan disetorkan kepengepul,” ungkapnya kepada wartawan.

Sebenarnya, lanjut Yati, pekerjaan ini sudah sejak lama dijalani, namun sering kali tersendat permodalan maklum kami orang susah, tidak ada biaya untuk membeli bahan baku seperti bambu, untuk makan pun sangat kami sangat kesulitan, karena tidak ada modal, apalagi dimusim sekarang, maka saya dan suami hanya bisa kuli membuat saja punya orang lain.

“Saya punya empat anak, dan dirumah sekarang dua keluarga, dan beberapa cucu, hidup mengandalkan dari penghasilan buat tusuk sate,”ungkap Yati.

Lanjut ia memaparkan, dalam dua sampai tiga Minggu baru bisa disetorkan ke pengepul, itupun terkadang tidak maksimal sesuai dengan pesanan.

“Paling dua Minggu sekali bisa disetorkan ke pengepul, itu juga tidak banyak cuma 3.000 sampai 4.000 biji saja, maka saya berharap pemerintah berikan bantuan modal usaha agar bisa buat usaha sendiri” pungkas Yati,( Der )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *