Maemunah Depresi Di Arab Saudi , Anak Kandung Minta Bantuan Pemerintah Pusat

BERITA SEPEKAN, CIANJUR – Eneng Tri Hayati (28 tahun) anak seorang pekerja migran Indonesia berharap terus kepada pemerintah pusat agar Ibunya bisa cepat pulang ke tanah air. Maemunah (47 tahun) yang tercatat sebagai warga Kampung Banyuresmi RT 003 RW 002 Desa Babakansari, Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, berangkat merantau menjadi Tenaga Kerja Wanita ke negeri kurma itu, tepatnya di kota Damam Saudi Arabia sejak tahun 2007 silam.

Eneng Tri Hayati, Saat Mengadu Kekantor Astakira

Berdasarkan keterangan pihak keluarga, selama tiga tahun terakhir tidak mendapatkan kabar dari Maemunah, nomor hp yang selalu digunakan sebelumnya tidak bisa dihubungi. Namun dipertengahan bulan September 2020 , ada kabar mengagetkan bahwa ibu separuh baya itu mengalami sakit depresi (lupa ingatan red) dirumah majikan.

“Ya, ibu saya katanya sakit depresi,” ujar Eneng.

Menurutnya, diketahui bahwa ibunya mengalami depresi setelah majikan yang bernama Faisal menghubungi dengan Vidio call dengan menggunakan bahasa Arab, lanjut dia, bahkan majikannya itu minta bantuan agar Ibunya itu bisa dipulangkan ke Indonesia.

” Ini ibu kamu sakit, kalau bisa minta pertolongan pemerintah Indonesia. Begitu ngmongnya pak,” ungkap dia saat ditemui di rumahnya belum lama ini.

Ketua DPC Astakira Pembaharuan Kabupaten Cianjur Ali Hildan, membenarkan, bahwa Maemunah yang mengalami depresi lagi dalam pengadvokasian divisi hukum Astakira.

“Betul kita Astakira lagi perjuangkan agar ibu Maemunah itu bisa cepat pulang ke tanah air,”kata Ali.

Ali mengungkapkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan KBRI Riyad dan alhamdulilah pihak keluarga sudah mendapatkan kabar bahwa ibu Maemunah sudah ditemukan oleh pihak KBRI kerjasama dengan kepolisian damam Arab Saudi.

” Kami sudah dapat kabar dari konsuler KBRI bahwa yg bersangkutan sudah ditemukan dan sekarng berada di kepolisian damam,” ungkapnya.

Disinggung terkait hak- hak PMI, Ali mengatakan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pihak KBRI agar PMI tetap harus mendapatkan haknya, lantaran pengakuan pihak keluarga (anak kandung red), baru menerima kiriman uang sebesar Rp.48 juta selama 13 tahun.

“Pasti kita perjuangkan. Dan kami sangat yakin KBRI akan lebih memprioritaskan masalah hak pmi,” kata Ali.(Red/Humas Astakira).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *